3
Farel ini dulunya teman baikku. Selalu mengerti, selalu menjaga dan selalu menemani. Sampai pada suatu hari dia bilang, dia sayang aku. Meskipun dia tau aku masih belum bisa melupakan Mario.
Sebenarnya Mario itu mantan pacarku di SMA. Kami sama-sama tinggal di Bandung. Mario jauh lebih dingin daripada Farel, dan Farel akan selalu jadi kehangatan buatku. Tapi kamu tau kan, kalau kebanyakan perempuan lebih suka yang dingin daripada yang ngasih kehangatan?
Aku dan Mario memutuskan untuk berpisah karena kami punya visi dan misi yang berbeda soal kehidupan. Dia mau merantau ke Jakarta. Sedang aku hanya ingin hidup normal dan menahan diri untuk tetap berada di zona nyaman.
Waktu kuliah, aku dan Farel sama-sama masuk Unpad. Aku sih lebih suka manajemen, jadi aku pilih ekonomi. sedang Farel kuliah di fakultas hukum. Kalau Mario, sudah hilang kabar.
Di tahun ketiga kami kuliah, aku membuka diri untuk Farel. Kami mulai pacaran. Aku tanya, kenapa dia kuliah hukum, padahal dia mampu masuk ITB dan padahal semasa SMA, dia paling suka orbit dan segala benda-benda asing yang kadang aku ngga ngerti kalau dia sudah cerita.
"Mau jadi lawyer ternama supaya bisa ngidupin lo kalau-kalau Mario ngga kembali lagi"
Lagi-lagi, rasa sedih bercampur bingung yang aku rasakan. Ingin teriak dan bilang ke Farel kalau harusnya kamu jangan biarkan aku larut terlalu dalam soal Mario lagi.
Tapi engga, aku ngga mungkin marah sama Farel. Dia adalah satu-satunya orang yang paling paham kondisi ini dan membebaskan aku untuk sayang sama orang lain. Dia ngga ingin mengurungku. Dia ingin aku bebas, terbang, seperti merpati yang sering kami lihat di alun-alun Bandung.
"Gue cuma pengen liat lo bahagia. Kalau pacaran ini membuat lo terkekang, gue bakal pergi."
Saat itu Aku lagi nangis, kangen Mario. Dan tiba-tiba Farel nangis. Karena aku.
Ku genggam tangannya erat. "Engga. Gue yang salah. Gak seharusnya gue giniin lo"
Aku akan selalu yakin semua akan baik-baik aja kalau aku sama Farel.
Semuanya berjalan indah sampai aku dan Farel lulus lalu keterima kerja di salah satu bank terbesar di Indonesia. Mesti ngerantau ke Jakarta, tapi ngga papa. Ada Farel disana. Untungnya dia keterima juga.
Satu kantor sama Farel membuat aku lebih tenang. Pelan-pelan aku bisa lupain Mario. Pelan-pelan hatiku terbuka untuk Farel.
Setelah kerja, kami sering liburan bareng, kami habiskan weekend berdua. Kadang kami keliling Jakarta cuma buat cari telur gulung karena aku kepingin. Farel ngga pernah nolak permintaanku.
Awalnya aku tinggal di apartemen bersama Farel. Tapi setelah ayah dan ibuku pensiun, mereka memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Nemenin aku katanya. Kakakku tinggal di luar negeri, dua-duanya, jadi sudah ngga ada yang tersisa di Bandung.
Jelang satu tahun bekerja, aku ditarik ke group lain, butuh yang ngerti manajemen dan bisa akrab sama nasabah. Baiklah, aku pindah.
Hawa dingin mencekam saat aku masuk ke ruangan baru itu. Penuh dengan aktivitas serius dan orang-orang yang tidak berbincang satu sama lain.
Perlahan aku diantar HR duduk disatu-satunya bangku tersisa diruangan itu. Sebelahnya terisi tapi tidak ada yang duduk.
Kuperhatikan dengan sesama. Yang ada hanyalah tempelan-tempelan pendingan dan quotes penyemangat yang membara. Ambisius.
Sehari, dua hari, tiga hari. Orang disampingku belum datang.
Hari ke empat aku datang lebih pagi. Ada pendingan yang harus disiapkan untuk ke nasabah siang nanti.
Aku melihat kursi disampingku akhirnya terisi. Laki-laki.
Dari belakang, ia terlihat sibuk melihat dokumen yang menumpuk. Bajunya sudah kusut seperti sudah bekerja dari semalam. Sosok ambisius. Aku sudah tau dari awal aku duduk di sana.
"Sila!"
Suara Farel menghentikan langkahku menyapa si ambisius. Aku berbalik. Ku lihat Farel tersenyum tipis. Perlahan, ia mendekat kearahku.
"Sila?"
Suara lain.
Aku terdiam. Senyumku pudar. Begitupun senyum Farel.
Sebenarnya Mario itu mantan pacarku di SMA. Kami sama-sama tinggal di Bandung. Mario jauh lebih dingin daripada Farel, dan Farel akan selalu jadi kehangatan buatku. Tapi kamu tau kan, kalau kebanyakan perempuan lebih suka yang dingin daripada yang ngasih kehangatan?
Aku dan Mario memutuskan untuk berpisah karena kami punya visi dan misi yang berbeda soal kehidupan. Dia mau merantau ke Jakarta. Sedang aku hanya ingin hidup normal dan menahan diri untuk tetap berada di zona nyaman.
Waktu kuliah, aku dan Farel sama-sama masuk Unpad. Aku sih lebih suka manajemen, jadi aku pilih ekonomi. sedang Farel kuliah di fakultas hukum. Kalau Mario, sudah hilang kabar.
Di tahun ketiga kami kuliah, aku membuka diri untuk Farel. Kami mulai pacaran. Aku tanya, kenapa dia kuliah hukum, padahal dia mampu masuk ITB dan padahal semasa SMA, dia paling suka orbit dan segala benda-benda asing yang kadang aku ngga ngerti kalau dia sudah cerita.
"Mau jadi lawyer ternama supaya bisa ngidupin lo kalau-kalau Mario ngga kembali lagi"
Lagi-lagi, rasa sedih bercampur bingung yang aku rasakan. Ingin teriak dan bilang ke Farel kalau harusnya kamu jangan biarkan aku larut terlalu dalam soal Mario lagi.
Tapi engga, aku ngga mungkin marah sama Farel. Dia adalah satu-satunya orang yang paling paham kondisi ini dan membebaskan aku untuk sayang sama orang lain. Dia ngga ingin mengurungku. Dia ingin aku bebas, terbang, seperti merpati yang sering kami lihat di alun-alun Bandung.
"Gue cuma pengen liat lo bahagia. Kalau pacaran ini membuat lo terkekang, gue bakal pergi."
Saat itu Aku lagi nangis, kangen Mario. Dan tiba-tiba Farel nangis. Karena aku.
Ku genggam tangannya erat. "Engga. Gue yang salah. Gak seharusnya gue giniin lo"
Aku akan selalu yakin semua akan baik-baik aja kalau aku sama Farel.
Semuanya berjalan indah sampai aku dan Farel lulus lalu keterima kerja di salah satu bank terbesar di Indonesia. Mesti ngerantau ke Jakarta, tapi ngga papa. Ada Farel disana. Untungnya dia keterima juga.
Satu kantor sama Farel membuat aku lebih tenang. Pelan-pelan aku bisa lupain Mario. Pelan-pelan hatiku terbuka untuk Farel.
Setelah kerja, kami sering liburan bareng, kami habiskan weekend berdua. Kadang kami keliling Jakarta cuma buat cari telur gulung karena aku kepingin. Farel ngga pernah nolak permintaanku.
Awalnya aku tinggal di apartemen bersama Farel. Tapi setelah ayah dan ibuku pensiun, mereka memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Nemenin aku katanya. Kakakku tinggal di luar negeri, dua-duanya, jadi sudah ngga ada yang tersisa di Bandung.
Jelang satu tahun bekerja, aku ditarik ke group lain, butuh yang ngerti manajemen dan bisa akrab sama nasabah. Baiklah, aku pindah.
Hawa dingin mencekam saat aku masuk ke ruangan baru itu. Penuh dengan aktivitas serius dan orang-orang yang tidak berbincang satu sama lain.
Perlahan aku diantar HR duduk disatu-satunya bangku tersisa diruangan itu. Sebelahnya terisi tapi tidak ada yang duduk.
Kuperhatikan dengan sesama. Yang ada hanyalah tempelan-tempelan pendingan dan quotes penyemangat yang membara. Ambisius.
Sehari, dua hari, tiga hari. Orang disampingku belum datang.
Hari ke empat aku datang lebih pagi. Ada pendingan yang harus disiapkan untuk ke nasabah siang nanti.
Aku melihat kursi disampingku akhirnya terisi. Laki-laki.
Dari belakang, ia terlihat sibuk melihat dokumen yang menumpuk. Bajunya sudah kusut seperti sudah bekerja dari semalam. Sosok ambisius. Aku sudah tau dari awal aku duduk di sana.
"Sila!"
Suara Farel menghentikan langkahku menyapa si ambisius. Aku berbalik. Ku lihat Farel tersenyum tipis. Perlahan, ia mendekat kearahku.
"Sila?"
Suara lain.
Aku terdiam. Senyumku pudar. Begitupun senyum Farel.
Comments
Post a Comment