Posts

3

Farel ini dulunya teman baikku. Selalu mengerti, selalu menjaga dan selalu menemani. Sampai pada suatu hari dia bilang, dia sayang aku. Meskipun dia tau aku masih belum bisa melupakan Mario. Sebenarnya Mario itu mantan pacarku di SMA. Kami sama-sama tinggal di Bandung. Mario jauh lebih dingin daripada Farel, dan Farel akan selalu jadi kehangatan buatku. Tapi kamu tau kan, kalau kebanyakan perempuan lebih suka yang dingin daripada yang ngasih kehangatan? Aku dan Mario memutuskan untuk berpisah karena kami punya visi dan misi yang berbeda soal kehidupan. Dia mau merantau ke Jakarta. Sedang aku hanya ingin hidup normal dan menahan diri untuk tetap berada di zona nyaman. Waktu kuliah, aku dan Farel sama-sama masuk Unpad. Aku sih lebih suka manajemen, jadi aku pilih ekonomi. sedang Farel kuliah di fakultas hukum. Kalau Mario, sudah hilang kabar. Di tahun ketiga kami kuliah, aku membuka diri untuk Farel. Kami mulai pacaran. Aku tanya, kenapa dia kuliah hukum, padahal dia mampu masuk ...

2

Pagi itu, langit menjadi kelabu. Udara dingin menyusup masuk dari sela-sela jendela yang setengah terbuka. Kulangkahkan kaki menuju dapur, bersiap membuat secangkir coklat panas. Ibuku berdiri disana. Sambil bersandung, ia mengaduk kopi kesukaan ayah. Ia tersenyum kepadaku. Tanpa harus meminta, ibu mengoper sebuah gelas pink yang sudah biasa aku pakai setiap pagi. "makasih ibu." Itu satu-satunya percakapan kami sebelum kemudian kami masing-masing sibuk dengan rutinitas yang berbeda. Aku selalu menyempatkan diri menyeruput secangkir coklat hangat sebelum ke kantor. Bukan, bukan karena suka. Rasanya saja pahit dan aneh. Aku cuma ingin punya perbincangan simple dengan ibuku setiap pagi. Pun, perjalanan ke kantor juga sama saja. Seperti biasa, berangkat pukul 6 dan sampai pukul 7. Kemudian duduk di kubikle kecilku yang berukuran 2x2 meter persegi. Sebentar, aku menengok ke meja sebelah. Tempat duduk yang sudah kosong selama 6 bulan. setelah dia pindah dari sana, rasany...

1

Aku tersenyum memikirkan hari itu. Di mana langit menunjukkan warna jingga, lalu dirimu lantas muncul dari kejauhan. Ah, aku jadi ingat, betapa nadiku berdetak cepat. Sedetik kemudian aku sudah menyerah tenggelam dalam pelukmu. Rasa hampa dan resah berkumpul menjadi satu. Menjadi sebuah gumpalan rindu yang lalu menguap tak berwujud. Aku suka kehangatan itu. Dirimu. Kala mengingatnya, rasa itu menyeruak, meneriakkan opininya. Tidak. Aku tau ini bukan saatnya, momen itu sudah lewat. Aku harusnya turut bahagia, di hari pernikahanmu.