2

Pagi itu, langit menjadi kelabu. Udara dingin menyusup masuk dari sela-sela jendela yang setengah terbuka. Kulangkahkan kaki menuju dapur, bersiap membuat secangkir coklat panas.
Ibuku berdiri disana. Sambil bersandung, ia mengaduk kopi kesukaan ayah. Ia tersenyum kepadaku. Tanpa harus meminta, ibu mengoper sebuah gelas pink yang sudah biasa aku pakai setiap pagi.

"makasih ibu."

Itu satu-satunya percakapan kami sebelum kemudian kami masing-masing sibuk dengan rutinitas yang berbeda.

Aku selalu menyempatkan diri menyeruput secangkir coklat hangat sebelum ke kantor. Bukan, bukan karena suka. Rasanya saja pahit dan aneh. Aku cuma ingin punya perbincangan simple dengan ibuku setiap pagi.

Pun, perjalanan ke kantor juga sama saja. Seperti biasa, berangkat pukul 6 dan sampai pukul 7. Kemudian duduk di kubikle kecilku yang berukuran 2x2 meter persegi.

Sebentar, aku menengok ke meja sebelah. Tempat duduk yang sudah kosong selama 6 bulan. setelah dia pindah dari sana, rasanya ada yang hilang.

Dulu, yang duduk disana namanya Mario, laki-laki yang sudah ku pacari selama 1 tahun terakhir.

Setelah diangkat dari posisi cungpret ke kasta yang lebih tinggi, dia duduk di sebuah ruangan yang cukup luas. Tidak jauh dari tempatku duduk. Tempat dimana kami sering kali menghabiskan waktu berdua, pura-pura bahas kerjaan.

Mario sosok yang humoris tapi selalu tegas. Cuma beda, kalau sama aku, bisa lah baik-baik manja.

Maaf, tapi itu dulu. Sebulan terakhir ini dia jadi lebih sering marah. Mungkin karena tekanan dari atasan yang semakin lama semakin keras. Kerja di bidang perbankan memang menggiurkan dari sisi pendapatan, tapi ya ini, menantang, karena kamu dihadapkan dengan kenyataan bahwa sebelah kakimu sudah ada di balik jeruji besi dingin dan kawanmu sudah duduk di kursi panas meja hijau.

Sudah seminggu ini Mario sibuk telepon sana sini. Ada kasus soal nasabah yang diusut kejaksaan.

Oke memang aku agak egois, tapi aku sedikit kesal karena dia lupa dengan kenyataan ada aku yang sering pura-pura ke toilet supaya terlihat "ada" didekatnya.

Ku lihat jam di dinding. Waktu terlalu cepat berlalu ketika kulihat jarum pendek menunjuk angka 5 dan jarum panjangnya sedikit melewati angka 2.

"Pak saya pulang ya."

Bahkan kali ini aku benar-benar muncul di hadapannya.

"iya"

Oke cuma itu balasannya. Baiklah. Aku tidak akan berlama-lama.

Detik itu aku memutuskan datang ke apartemen Farel. Apartemen itu terletak tak jauh dari kantorku. Cuma butuh 10 menit untuk jalan kaki kesana.

Aku tak perlu telepon untuk datang karena aku tau, Farel akan selalu ada di sana.

"Rel.... "

Sapaku ketika dia dengan cepat membuka pintu setelah 1 pencetan bel.

"Kenapa?" katanya lembut.

Sebelum sempat menjawab, dia sudah bisa menebak. "Ah pasti Mario ya?"

Oke, laki-laki ini memang hebat.

"Kan gue udah bilang, lo sama dia gak cocok. Yang lain aja ngga ada?"

Aku cuma bisa tersenyum kecut. Dia terlalu mengenalku, untukku bisa berbohong dan bilang kalau aku kangen dia.

"Iya" Jawabku singkat sambil menghempaskan tubuh keatas sofa.

Oh iya, aku lupa kenalin Farel ke kalian. Kenalkan, ini Farel, pacarku selama 4 tahun terakhir.

Comments

Popular posts from this blog

3

1